RSS

NGAPRAK KA LBC TAPOS, CIAWI - BOGOR

 


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Umat Terbaik


 

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PUISI G. Sukaton

SELAMAT JALAN IBUNDA

Oleh : G. Sukaton


Saat waktu berhenti diujung langkahmu
maka engkaupun pergi menemui Robb mu
meninggalkan sesuatu yang bernama rindu
hidup ini memang tinggal menunggu waktu

Saat kami khusuk bertaqorub di ramadlan yang suci
diam-diam engkau pulang ke kampung abadi
menuju dimensi kehidupan yang haqiki
dan ditepi hari yang fitri, berderai doa-doa kami

Saat perjalanan hidup tiba di batas masa
dan detak jantung mu bagai mendaki udara
barulah aku mengerti apa artinya duka
aku berharap bisa bersamamu lagi di surga

Ya Robb, Gofuururrohim
dengan setiap tetes air susunya yang memenuhi akalku
dengan setiap gumpal darahnya yang mengalir di jantungku
dengan setiap butir keringatnya yang menuntun asaku
dengan sebening air matanya yang melumuri jiwaku

Ampunilah Ibunda
tempatkanlah dia disisi Mu saja

Aamiin ya Robb, Dzat Pengabul doa



Bogor, 21 Juli 2018

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PUISI SELAMAT JALAN AYAH

 SELAMAT JALAN AYAH

Oleh : G. Sukaton

 

Besok adalah hari kemerdekaan negara ini

Lagu kebangsaan sudah berdentang-dentang di pelosok pertiwi

Dan bendera merah putih berkibar-kibar di langit negeri

Tapi engkau ditakdirkan untuk pergi meninggalkan semua yang engkau cintai

 

Malam belum larut dan untaian dzikir ku masih menderas

Saat kulihat dadamu tak mampu lagi menghela nafas

Karena detak waktu sudah berhenti dan masa pun tuntas

Meski kerinduan mu di ujung waktu jadi rahasia tak berbalas

 

Jangan kau risaukan kami yang masih di dunia

Segala rasa sakit dan pengorbanan mu tak akan sia-sia

Menjadi bekal berharga di perjalanan mu menghadap pada Nya

Selamat jalan Ayah, doa kami akan terus melambung menembus masa

 

Bogor, 23 Agustus 2021

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

PUISI SENANDUNG UNTUK AYAH

 SENANDUNG UNTUK AYAH

Oleh : G. Sukaton

Photo G. Sukaton
Photo : G. Sukaton

Akhirnya engkau pergi juga

Menyusuri tepi malam menyusul belahan jiwa

Yang tentu menunggu mu di tepi masa tak terpeta

Ku antar engkau dengan dzikir lirih dan untaian doa

Ma’assalaamah fii amaanih wahai ayahanda


Sosokmu telah mewarnai setiap relung di beranda jiwaku

Sejatinya engkau adalah pengantin yang segera berbulan madu

Meniti kembali gugusan waktu-waktu yang tertinggal dimasa lalu

Ya Rahim, pertemukan lah kembali ayahanda dengan ibu di dalam taman syurga Mu

Seperti di bumi Mu, dahulu mereka pertama kali bertemu 


Berikan ampunan Mu ya Ghofur sesudah maut menjemput, 

selamatkan dari gejolak jahanam yang gelapnya bagai malam yang pekat

mudahkan hisab nya ketika segala amal Engkau hitung dengan cepat.

Ya Rahman, rahmatilah, bebaskan dan lepaskanlah ayahanda dengan selamat

Muliakanlah dia dan  lapangkan kuburnya dari adzab yang berat. 


Luaskan jalan masuk menuju Mu, Sucikan dia dengan air jernih menyejukan, 

bersihkan dia dari segala alfa menjadi seputih kafan, 

bersihkan dari segala kotoran dunia yang mungkin terbawa karena kelalaian, 

gantilan rumahnya dengan rumah yang lebih baik dikeabadian, 

keluarga yang lebih baik, dari yang kini dia tinggalkan, 


Gembirakan  ayahanda dengan senyum ibunda yang pernah menemaninya dengan sabar

di didalam roudhatul jannah dimana dibawahnya sungai abadi mengalir

lindungilah dia dari pedihnya adzab serta fitnah kubur 

jauhkanlah ayahanda dari lautan huthomah yang membakar

kabulkanlah ya A’zizul Ghoffar 



Harjasari, 14 Juni 2021


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Puisi G. Sukaton, Dunia berada di ujung Telunjuk anak ku


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

INSTRUMENTAL AISYAH ISTRI RASULULLAH


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

G. SUKATON BACA PUISI




  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

MELIHAT CORONA DARI PERSPEKTIF AQIDAH DAN SYARIAH


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

TEKNIK DASAR TEATER OLAH RASA

Latihan Olah Rasa - Teknik Dasar Akting Seni Teater

Latihan Olah rasa - Teknik Dasar Akting Seni Teater - Jika artikel sebelumnya telah membahas seputar latihan olah suara dan latihan olah tubuh, maka di artikel ini kami akan melanjutkan materi tentang latihan olah rasa, dimana ketiga bagian yang kami sebutkan diatas merupakan salah satu teknik dasar dalam berakting di dalam seni teater. Adapun penjelasan tentang latihan olah rasa silahkan simak artikel kami di bawah ini


Akting pada dasarnya menampilkan keindahan dan keterampilan seorang aktor dalam mewujudkan berbagai pikiran, emosi, perasaan, dan sosok peran yang dimainkan sesuai dengan karakter. Aktor harus memiliki kemampuan untuk menjadi seseorang yang bukan dirinya sendiri. Tentu hal itu bisa terjadi kalau mampu berkosentrasi mengolah rasa, dan emosi. Untuk itu seorang pemain teater perlu melatihkan konsentrasi, perasaan, emosi dengan latihan olah rasa.

a. Latihan konsentrasi

Latihan konsentrasi adalah latihan memusatkan pikiran kita pada suatu objek sesuai dengan tujuan. Misalnya pikiran fokus pada hapalan naskah, lawan main, dan pada permainan di atas panggung. Pikirannya tidak terbagi dengan berbagai hal yang lain.


Lakukan latihan permainan konsentrasi, dua orang berhadapan, satu orang ditugaskan untuk diam tanpa emosi, sementara kawanmu berusaha menggoda sekuat tenaga bahkan sampai lawannya tertawa. Lakukan sebaliknya, atau permainan konsentrasi memandang benda tertentu tanpa boleh bicara, sementara teman lain tiba-tiba mengganggu dengan bunyi-bunyian, atau mengajak berbicara dan mengajak pergi tergodakah? Kalau kasih tergoda masih belum konsentrasi, coba lagi dengan permainan yang lain.

b. Latihan imajinasi

Latihan ini adalah latihan mengolah daya khayalmu, seolah-olah hal itu terjadi saat ini dan kamu rasakan. Bisa dilakukan sendiri-sendiri atau berimajinasi bersama. Lakukan permainan imajinasi, misalnya kamu berimajinasi pergi berpetualang ke hutan belantara, mendaki puncak yang tinggi, menuruni jurang yang curam dan bertemu dengan berbagai binatang baik yang jinak maupun yang buas. Juga menemukan berbagai situasi seperti air terjun yang menyegarkan, pohon yang tumbang, kehujnanan atau pun merasakan gunung yang akan meletus.

Latihan ini bisa kamu tentukan suasana-suasana yang berbeda tiap latihannya sehingga imajinasi kamu menjadi beragam dengan berbagai situasi, seperti ke kota-kota, laut, sawah, dll

Lakukan permainan imajinasi ini dengan teman-temanmu pasti akan menyenangkan.

c. Latihan ingatan emosi

Latihan ini adalah latihan mengingat-ingat lagi berbagai emosi yang pernah kamu alami ataupun pernah melihat orang lain dengan emosinya. Seperti melihat orang sedih, gembira, marah, kecewa, ragu-ragu, putus asa, kegelian, lucu, tertawa terbahak-bahak dan berbagai emosi lainnya. Kemudian emosi-emosi itu ditampilkan satu persatu saat latihan sehingga akan tampak dalam ekspresi wajah dan tubuh.

Ingat-ingat dan tampilkanlah salah satu emosi tersebut dan temanmu akan melihat ekspresimu dengan menarik. Cari lagi bentuk-bentuk atau buat sendiri permainan-permainan tentang konsentrasi, imajinasi, dan ingatan emosi sehingga latihan teatermu menjadi kreatif juga menyenangkan.

Itulah yang dapat kami bahas saat ini seputar latihan olah rasa dalam dunia akting teater. Semoga bermanfaat bagi kamu yang membacanya.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

AKU TAK BISA LAGI TERTAWA



Aku tak bisa lagi tertawa
saat badut-badut berdasi bergaya dilayar kaca
Karena anggaran pendapatan belanja Negara yang buntu dijawab oleh
agen-agen penyalur pembantu , penghinaan atas harga diri bangsaku dijawab
dengan penandatanganan MOU. Sekian juta mulut anak-anak bangsa ternganga saat
kamu dengan wajah riang pergi pelesir ke luar negeri, sorang anak balita makan
nasi aking mati, karena surat keterangan miskin tidak dimiliki. Rapat kerja
dewan terhormat yang dipaksakan untuk mengejar setoran hanya menjadi debat
kusir, menambah gaduh ruang media public
membuat sibuk kuli tinta yang senang berfantasi, berakhir pada
penggelontoran dana untuk para pemilik modal bermuara pada kas partai. Ini
biaya yang harus dibayar dengan keringat buruh kontrak, pegawai swalayan, dan
penduduk migran.  Bagaimana kebijakan
bisa dijalankan bila kedua belah kakimu terjerat aturan yang kamu ciptakan.
Peraturan adalah mahkota kebersamaan bukan bahasa birokrasi yang tak memiliki
nurani, kering dan miskin kontemplasi. Kamu main-main dengan amanat rakyat yang
kau beli dengan potilik pencitraan memikat.
maka akupun urung menyeduh secangkir kopi tubruk
kesukaan ku
aku tak bisa lagi tertawa
saat badut-badut berdasi bergaya dilayarkaca
karena rasa keadilan semakin pahit untuk di
rasakan, karena tikus-tikus makin rakus menguras kas badan anggaran sementara sang
kucing sudah tidak memiliki selera makan yang baik karena kelebihan berat badan,
transaksi dagang sapi digelar atas nama konstitusi dan itu kamu namakan majlis pengadilan,
tentu setiap barang bukti yang ditemukan punya harga, setiap pasal yang
memberatkan punya harga, setiap saksi yang dihadirkan punya harga. Aku muntah
diatas piring sarapanku menonton opera sabun yang kau pentaskan tidak kunjung
usai, bertele-tele menguras tenaga dan pikiranku. Karena pada setiap kasus yang
kau pilih dengan licik, beraroma tidak sedap menjadi alat tawar dibursa pilpres.
karena untuk membeli kursi kekuasaan ada aturan permainan, untuk mencetak
kantong suara kamu butuh biaya, maka tawar menawar menjadi lumrah dan diniscayakan.
kamu berani berapa ?
aku tak bisa lagi tertawa
saat badut-badut berdasi bergaya dilayarkaca
karena outsourcing dipaksakan menjadi peraturan mengandung racun mematikan,
menjadi belati diam-diam menikam dari belakang, memangkas hak atas
kesejahteraan karyawan, melemahkan perlawanan serikat pekerja. Untuk  menekan biaya perusahaan pos account social
welfare dikalahkan, maka buruh kontrak lahir premature dari rahim kantong
industry teronggok diantara mesin produksi. Dengan tunjangan kesehatan yang
terus ditekan hidup berjalan mengikuti putaran pergantian shift dan lembur
dadakan. Wajahnya yang mengenaskan adalah mimpi buruk peradaban membayangkan
penindasan menetes dari meja persekongkolan penguasa. Untuk mempertahankan
hidup mereka terpaksa berhutang. Menjadi santapan yang diperebutkan rentenir
dan lembaga perkreditan.
maka akupun urung menyeduh secangkir kopi tubruk kesukaan ku

aku tak bisa lagi tertawa
saat badut-badut berdasi bergaya dilayar kaca
karena Pelajar dan Mahasiswa dikarduskan
untuk memenuhi selera pasar maka dengan liar mereka saling berhadapan di halaman
kampus dan ruang belajar. Bangku pendidikan jadi tempat duduk para pesakitan
yang dituduh dan disalahkan. Perpustakaan hanya bilik sunyi tempat rak-rak
dingin sembunyikjan buku penuh debu karena ditinggalkan pembacanya, maka proses
berfikir jadi ruang hampa dan sunyi karena kecerdasan ditimbang dengan neraca
untung rugi dan kemampuan menjawab persoalan ditentukan dengan angka. Darah
mereka menggenang dijalan raya dan shelter pemberhentian busway menggetarkan ruang
udara jantung ibukota kemudian tanpa bisa dibendung meleleh ke pojok-pojok
daerah di Indonesia Raya dalam tajuk diskusi, head line media harian, dan ruang
seminar pendidikan Para pemerhati, mereka meracau tentang karakter bangsa,
metode belajar yang diserap dari akar sejarah asing. Lalu kamu menampungnya
dalam data statistic untuk dibaca dan di diskusikan. Darah para pelajar
menggenang di pikiran dan ingatanku. Kamu bicara apa ?
Aku tak bisa lagi tertawa
Saat badut-badut berdasi bergaya dilayar kaca
Karena kelaparan yang mematikan kau jawab dengan festival kuliner dan
peragaan busana, pembuhuhan masal sengketa tanah kau sembunyikan dan kemiskinan
yang menghisap anak-anak diperbatasan tak menghentikan pengalihan fungsi lahan,
ratusan ribu hektar rimba menguap jadi bancakan raja kecil bermahkota otonomi
daerah karena penebangan liar dilindungi dan penggudulan hutan oleh mata gergaji
tak mau berhenti. Tanah rekah menadah buncahan hujan pada tumpukan sampah
dilemparkan salah. Mana bisa mencetak sawah tanpa ketersediaan irigasi yang
memadai sementara pasokan pupuk dibatasi di bandrol harga fantastic. Tanpa
segan kamu makan batu batu bara, kau tenggak mineral dan minyak, kau telan
emas, timah dan tembaga tanpa malu-malu kau minum uranium. Yang tersisa hanya
tanah yang rekah, untuk kemakmuran Negara entah kamu anugerahkan semua jerih
payah pada tekanan kepentingan asing kamu menyerah. Tambang tua tidak lagi
berproduksi mengurung rumah kumuh buruh pribumi dalam igau mimpi dengan gaji
tidak mencukupi.

Aku tak bisa lagi tertawa
Saat badut-badut berdasi bergaya dilayar kaca
Karena kebodohan di namakan kearifan lokal kau jajakan pada
wisatawan mancanegara dalam paket peristiwa budaya. Tradisi yang tidak memiliki
akar agama akan mencerabut ruh dari materi adalah pintu lebar menuju hancurnya
peradaban manusia. Tahyul dan mitos berceceran dalam kurikulum pendidikan
nasional diruang kerja kantor dinas meretas masuki ruang mimpi anak-anak kita
menyelinap jauh kedalam buku pelajaran sekolah dasar dan menengah terus
membanjiri lembar-lembar silabus perguruan tinggi menjauhkan mata akal kaum
intelektual dari persoalan yang menelikung anak negeri. Ini adalah gerbang
menganga pada penjajahan ideology. Dengan ilusi paham demokrasi kita mentahkan
ayat suci jadi curiga pada Tuhan pencipta alam raya, hidup dan manusia dibumi.
Kemuliaan manusia terletak pada mahkota akalnya maka proses berpikir menjadi
sebuah keniscayaan untuk menemukan hakikat kebangkitan manusia. Dimanakah
kesadaran bersembunyi?

Bogor, 28 September 2012
*Diterbitkan oleh majalah KEMUNING, Dewan Kesenian dan Kebudayaan Kota Bogor tahun 2013

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Koleksi SEKAR IMAGE, Sanggar Lukis Bogor, Judul 'Dimana Allah' pastel on paper, karya G. Sukaton

AINA ALLAH?

Sebuah perjalanan spiritual seorang manusia
dalam mencari hakikat penciptaan manusia
Dari mana Ia berasal?
Untuk apa Ia hidup di dunia?
Hendak kemana Ia setelah mati?

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Koleksi SEKAR IMAGE, Sanggar Lukis Bogor, Judul 'Sin' pastel on paper, karya G. Sukaton


  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KOMBID SASTRA DIPOKERSEN: Pembacaan Sajak WS Rendra

KOMBID SASTRA DIPOKERSEN: Pembacaan Sajak WS Rendra

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KOMBID SASTRA DIPOKERSEN: KOMBID SASTRA DIPOKERSEN: Bahasa Geram

KOMBID SASTRA DIPOKERSEN: KOMBID SASTRA DIPOKERSEN: Bahasa Geram

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Pembacaan Sajak WS Rendra

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KOMBID SASTRA DIPOKERSEN: Barzanji di mata W.S. Rendra

KOMBID SASTRA DIPOKERSEN: Barzanji di mata W.S. Rendra

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

Barzanji di mata W.S. Rendra

Sekilas tentang 'Iqd al-Jawahir (Kalung Permata)
= BARZANJI =

Pengarang 'Iqd al-Jawahir (Kalung Permata)
pengarang 'Iqd al-Jawahir (Kalung Permata)  adalah Syekh Ja'far al- Barzanji bin Husin bin Abdul Karim. Dia lahir di Madinah tahun 1690 dan meninggal tahun 1766. Albarzanji berasal dari nama sebuah tempat di Kurdistan, Barzinj. Karya sastranya ini lebih dikenal dengan Barzanji darinama pengarang itu sendiri.
Barzanji adalah karya sastra
Barzanji adalah karya sastra yang bertutur tentang kehidupan Muhammad, mencakup silsilah keturunan, masa kanak-kanak, remaja, pemuda, hingga diangkat menjadi rasul. Karya itu juga mengisahkan sifat-sifat mulia Nabi Muhammad, serta berbagai peristiwa untuk dijadikan teladan umat manusia.
Karya Sastra yang mengetuk hati W.S. Rendra masuk Islam
Setelah lama tidak naik panggung, Rendra, sang maestro teater Indonesia, akan kembali menunjukkan perannya sebagai sutradara dan pemain di panggung teater. Kali ini, lewat pementasan Shalawat Barzanji, naskah terjemahan Syubah Asa yang pernah dipentaskan 33 tahun silam.
Pementasan Shalawat Barzanji akan digelar selama tiga malam, 12--14 Mei 2003, pukul 20.00 WIB, di Lapangan Tenis Indoor, Senayan, Jakarta. Acara yang diselenggarakan Harian Umum Republika itu dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad saw.
Shalawat Barzanji, yang pada saat pementasan pada 1970 berjudul Qasidah Barzanji, adalah puisi-puisi pujaan kepada Nabi Muhammad saw yang amat popular di kalangan umat Islam. Sajak-sajak musikal itu disusun oleh Syekh Al-Barzanji.
Pertunjukan saat itu dinilai banyak kalangan menjadi peristiwa budaya besar dan sukses. Sejarah teater Indonesia mencatat pentas Qasidah Barzanji kala itu sebagai pertunjukan tersukses Rendra dengan Bengkel Teaternya, terutama dari segi jumlah penonton.
Ketika keinginan Rendra untuk kembali naik panggung meluap, gayung pun bersambut. Tawaran pentas datang dari Republika untuk memuliakan Nabi Muhammad saw.
Tidak hanya dari sisi kreativitas dan keadaan jiwa seorang Rendra yang menyebabkan pertunjukannya nanti berbeda dengan puluhan tahun silam. Selain monolog Rendra sendiri, Ken Zuraida, istri Rendra, akan bermonolog membawakan kisah seorang perempuan bernama Zaitun yang terketuk hatinya mendengar salawat disyairkan.
Diakui Rendra, naskah ini sebagai salah satu pembuka hatinya terhadap kebenaran Islam. Pada pementasan Qasidah Barzanji Rendra belum menjadi Muslim.
Wassalam


anut

__._,_.___

Ilmu merupakan harta abstrak titipan Allah Subhanahu wata'ala kepada seluruh manusia yang akan bertambah bila terus diamalkan, salah satu pengamalannya adalah dengan membagi-bagikan ilmu itu kepada yang membutuhkan.
Janganlah sombong dengan ilmu yang sedikit, karena jika Allah Subhanahu wata'ala berkehendak ilmu itu akan sirna dalam sekejap, beritahulah orang yang tidak tahu, tunjukilah orang yang minta petunjuk, amalkanlah ilmu itu sebatas yang engkau mampu.

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KOMBID SASTRA DIPOKERSEN: Bahasa Geram

KOMBID SASTRA DIPOKERSEN: Bahasa Geram

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

KUMPULAN PUISI GUNUNG SUKATON

KUMPULAN PUISI GUNUNG SUKATON


Selamat Jalan Ibunda

oleh: G. Sukaton

Saat waktu berhenti diujung langkahmu
maka engkaupun pergi menemui Robb mu
meninggalkan sesuatu yang bernama rindu
hidup ini memang tinggal menunggu waktu

Saat kami khusuk bertaqorub di ramadlan yang suci
diam-diam engkau pulang ke kampung abadi
menuju dimensi kehidupan yang haqiki
dan ditepi hari yang fitri, berderai doa-doa kami

Saat perjalanan hidup tiba di batas masa
dan detak jantung mu bagai mendaki udara
barulah aku mengerti apa artinya duka
aku berharap bisa bersamamu lagi di surga

Ya Robb, Gofuururrohim
dengan setiap tetes air susunya yang memenuhi akalku
dengan setiap gumpal darahnya yang mengalir di jantungku
dengan setiap butir keringatnya yang menuntun asaku
dengan sebening air matanya yang melumuri jiwaku

Ampunilah Ibunda
tempatkanlah dia disisi Mu saja

Aamiin ya Robb, Dzat Pengabul doa

Bogor, 21 Juli 2018


SETU PATENGAN

Hari ini dua puluh lima tahun yang lalu
Tubuh renta ini pernah rebah di hamparan rumputmu
Menghitung bintang dengan telunjuk dibawah langit kelabu
Lalu selimut kabut memeluk tubuh malam sampai kaku
Aku mencari hangat api diujung reranting membeku
Ooo setu patengan yang syahdu bagai untaian lagu

Hari ini dua puluh lima tahun yang lalu
Aku kembali datang membawa anak-anak jaman padamu
Ingin membasuh wajah lelah nya dengan sejuk airmu
Tangan lemah ini pernah perkasa mendayung perahu
Tapi seperti dulu engkau hanya diam membisu
Meski dari balik rimbunan pinus kulihat engkau tersipu

Ooo setu patengan yang biru bagai beludru
Hari ini dua puluh lima tahun yang lalu
kaki ini jadi gemetar saat menapaki titian bambu
bergegas aku ingin menghambur dalam rengkuhanmu
mabuk dalam aroma kulit pinus seperti dulu
menghirup secangkir kopi dan sepotong rindu

Bandung 23 Mei 2017 


SURAT UNTUK PRESIDEN
(Refleksi akhir tahun)

Bapak Presiden yang baik hatinya
Lihatlah bunga-bunga bangsa layu ditaman nusantara
Tunas-tunas remaja berguguran sebelum mekar dimayapada
perahu akal mereka tenggelam ditelan banjir informasi disamudera sosial media, tak berdaya
karena pintu-pintu dunia dibiarkan terbuka lebar memasuki ruang pribadi sebelum masanya tiba.
Dengan satu ketukan jari saja, prilaku hidup bebas menjamah bilik hati anak kita jauh sampai relung paling rahasia
Maka anak-anak tumbuh dewasa dengan cepat tanpa diimbangi kematangan nalarnya
karena tangan-tangan pemilik modal menggurita dibalik meja penguasa, membunuh karakter penguasa dengan uang
mewarnai peraturan pengganti undang-undang untuk memuluskan kepentingan para pedagang, maka teknologi industri media dimainkan dalam satu pintu, menciptakan bahasa uang  menjadi senjata mematikan.
Kurikulum pendidikan dirancang menjadi mesin pencetak generasi lemah tanpa daya juang, mencoba tawar menawar dibawah tekanan kepentingan asing
metode belajar dipelajari sebagai materi pelatihan para pengajar saja, untuk mendongkak golongan, tidak bisa menyentuh benak anak-anak Indonesia
Anak-anak Indonesia terbata-bata mengeja teori yang diimport untuk kepentingan siapa
Melahirkan budaya dan ideologi yang memisahkan kehidupan bernegara dengan agama.

Bapak Presiden yang sederhana hidupnya
Dengarlah tangisan pertiwi yang merana karena pembangunan yang tergesa-gesa
mendera tubuhnya tanpa ada pembelaan dari putra-putra bangsa yang sedang mabuk kuasa
ribuan hekar hutan lenyap dalam sekejap meninggalkan kabut asap, karena lahan gambut dibakar dengan sadar.
Minyak  kelapa sawit, menjadi mimpi mengerikan di bumi kalimantan, sulawesi dan tentu saja di ribuan kota yang menjadi gelap terpapar asap persekongkolan, membuat pedih mata hati
maka dilahan perkebunan hutan tropis yang kaya dengan ragam satwa dan aneka hayati, orang tua kami terkapar mati
Berbagai pertanyaan yang tidak mendapatkan jawaban menjadi berita harian setiap media pemberitaan, membuat gaduh berkepanjangan tanpa ada jalan keluar yang pantas ditawarkan.
anak-anak pribumi harus puas menjadi kacung dan dihinakan ditanah ibunya, mereka mengais-ngais sisa sampah batu bara dengan tangan telanjang.
mata pena  adalah senjata mematikan yang dibawa para penjarah negeri yang berlindung dibalik perjanjian dan berbagai peraturan pengganti undang-undang yang dibuat oleh para saudagar di rumah rakyat.
Anak-anak negeri mengganti tanah dengan darah, menukar hutan dengan asap, menyulap sunyi jadi sampah suara.

Bapak Presiden yang lembut tutur katanya
Mengapa dada ini terasa sesak menyaksikan anak-anak kami tumbuh menjadi pribadi yang keras perangainya mudah sekali marah, untuk berpikir dan bekerja keras mereka malas,
karena sistem pendidikan menjadi mesin pencetak tenaga kerja, hanya menjanjikan selembar kertas.
Karena di sekolah sudah menjadi tempat yang mengerikan,transaksi jual beli semakin jelas
Tindak kekerasan dan perlakuan cabul pada anak sangat memilukan seperti gunung es, menggelindingkan bola salju, memporak porandakan generasi emas
Bagaimana masa depan bisa dimenangkan bila strategi direncanakan dengan serampangan oleh pejabat rakus yang berperilaku seperti tikus, tidak bisa membedakan antara seonggok rongsokan dengan timbunan emas.

Bapak Presiden  yang piawai merangkai teori
Revolusi mental tidak bisa dijalankan hanya dengan memampang  papan slogan
Perubahan hakiki tidak bisa dilakukan hanya dengan propaganda dalam rangkaian presentasi
Karena hakikat penciptaan manusia di dunia bukan sebagai mesin produksi yang bekerja tanpa hati
Manusia harus disadarkan jati dirinya sebagai makhluk yang diciptakan, membawa misi besar dari Robb nya, menjaga alam raya dan kehidupan agar lestari sesuai fitrahnya
Membangun peradaban manusia tidak cukup dengan mendatangkan para pemilik modal lalu mengumpulkannya dalam sebuah permufakatan rahasia
Tidak juga dengan berbagai kerjasama multilateral
apalagi dengan komporomi antar bangsa di panggung konferensi internasional.
Kejayaan sebuah bangsa dimasa depan harus direbut dengan kekuatan berpikir yang tunduk pada aturan Penciptanya
Maka ideologi yang berasal dari ayat-ayat Ilahi harus menjadi landasan setiap butir peraturan yang tumbuh diatas nya
Bila kesadaran sudah memenuhi setiap jiwa
Disanalah kebangkitan bermuara

Bogor, 28 Desember 2015


Dunia berada di ujung telunjuk anak ku

Oleh: G. Sukaton

Dunia berada di ujung telunjuk anak ku kini
Luasnya hanya beberapa inci
Dalam situs-situs maya anak ku bersembunyi
Membangun istana dengan tangan nya sendiri
Anak ku dimana kamu kini, berabad dia tak kembali
Jiwanya yang dahaga kian rekah tidak bisa lagi disusui
Untuk masuk ke bilik nya aku harus tahu kode sandi
Tiap menit nafasnya adalah ekplorsi
Update status membangun jaringan, tempat nya sembunyi

Dimanakah kau anak ku
Kita dipisahkan oleh peradaban
Padahal engkau hanya duduk di situ
Bahkan desah mu dapat aku rasakan
Saat kau retas rahasia terlarang dalam dua abjad bantuan
Akupun terjunkal ditelikung jejari mu
Coba mengejar dan berseru, jangan!
Tapi, ke balik jejaring kau cepat berlalu
Jejak mu tak ter rekam pengamatan

Dunia tak berdinding dibawah telunjuk anak ku
Banjir informasi menenggelamkan perahu akal mu
Yang teranyam dari pongah kebodohan ku
Pasar dunia menggenang di tas sekolah dan buku
Bahkan tugas dari guru kau beli di situ
Aku pun terjungkal ditelikung jejari mu
Coba menawar waktu untuk bertemu
Dalam putaran detik semakin cepat berlalu
Tapi jejari anak ku begitu cepat tak terburu

Dimanakah kau anak ku
Aku merindukan lagi rengek mu
Memecahkan pekerjaan rumah seperti dulu
Melayarkan perahu jaman di tawamu
Menghitung biji dacon dari tangan ibu
Masa kini memak milikmu
Tanganku kian rapuh tak sanggup lagi merebut waktu

Dunia maya mengambang di ujung jemari anak ku
Detik-detik menggelombang di ingatan ku
Bayangan masa lalu adalah jarak yang tak dapat ku tempuh
Aku berteriak sepenuh langit di sunyi bumi pencarian
Tapi engkau semakin jauh melayari gelombang pulsa
Dan aku ternganga menghitung kecepatan jari mu
Berlompatan diatas keyboard menertawakan aku
Maka aku pun beku dalam dekapan waktu


Bogor, 27 September 2012
Image




DARI GELAP MENUJU TERANG

Karya : G. Sukaton
Dengan mengeja Alif, Laam, Miim.
hamba rebahkan segenap kesombongan dikaki Paduka yang berkuasa atas jiwa.
Ini adalah kesepakatan yang tak bisa diingkari perjalanan ruhani menuju matahari
dari gelap yang menyekap menuju Maha Cahaya yang terang benderang.
Memperbaiki segala yang telah dirusak, mengembalikan segala yang telah diambil
oleh tangan tak berhati, hati tak bermata, mata tak berjiwa. Janganlah engkau
menukar kesesatan dengan petunjuk. Kuketuk dan kuketuk setiap pintu namun
kutangkap senyap gelap mendekap, sekali kudengar suara ‘siapa yang berkuasa

atas ada dan tiada’ gemanya memantul pada dinding tak bertemu jawab karena bukan tanya kau bawa hanya riap amarah dari getas jiwa. Perumpamaan tidak sanggup engkau terangkan pada petunjuk engkau mengutuk disempit jiwa engkau berkelana, engkau kapal layar tak bernakoda terombang ambing jadi sampah di cakrawala. Mengapa kamu ingkar pada perjanjian setelah teguh perjanjian padahal awalnya engkau tidak ada lalu Dia hidupkan dari air yang hina dalam tempat yang mulia engkau disiapkan menjadi sosok lemah tak bernama, tiba-tiba engkau menjadi angkuh dengan sejumput ilmu. Ingatlah saat Dia mengajarkan kepada Adam nama benda-benda satu persatu agar engkau menjadi tahu setelah tidak tahu. ‘Lalu para malaikat penjaga langit bersujud ‘sesungguhnya Engkau lebih tahu’.
Dengan mengeja Alif, Lam, Mim.
Sungguh kami sudah membuat kerusakan dan menumpahkan darah diatas bumi para lelaki mati ditangan kami, istiri-istri kehilangan suami, anak-anak kehilangan bapak jadi gambaran suram dimedan pertempuran, semesta jadi kelam. Putra-putra sejarah terus lahir dari rahim peradaban purba, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji dan mensucikan Engkau. “Bukankah sudah Ku katakan kepadamu, Sungguh Aku mengetahui rahasia langit dan bumi dan mengetahui apa yang kamu lahirkan dan apa yang kamu sembunyikan dalam dada?” tapi engkau tetap saja berkutat dalam kesesatan sampai habis waktu yang dijanjikan. Benang cahaya ini begitu jelas menuntun kelam jiwa dari gelap menyekap menuju cahaya terang benderang. Tapi lentera akal yang tersia kulihat sekerjap saja, hanya sekerjap semakin menjauh dipalung kesengsaraan, pencarianmu tak pernah usai tersesat di bilik sempit jiwa. Kalau saja engkau sungguh-sungguh ruku bersama orang-orang yang ruku ada karunia dan rahmat atasmu dari Penerima taubat lagi Maha Bijaksana, tapi kamu jadikan itu permainan diwaktu luang padahal awalnya engkau tidak ada lalu Dia hidupkan dari air yang hina dalam tempat yang mulia engkau disiapkan menjadi sosok lemah tak bernama. Lihatlah langit, bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung-gunung bagaimana ia ditegakkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? Mari benahi lagi bangunan akal ini, sisihkan di tepi fikrah-fikrah asing yang menumpuk kumuh memenuhi ruang kesadaran berpikir, dan kedua tangan ini raihlah tanpa curiga.
Dengan mengeja Alif, Lam Mim
Kalau bukan karena Rahman dan Rahim tentu sudah lama langit diatasmu runtuh dan bumi dikaki ini rekah. Selamatkanlah jiwamu dan jiwa-jiwa dibawah tanganmu dengan dua berkas cahaya yang semburat dari kabar gembira dan peringatan yang dibawa Sang Utasan dari Yang Maha Memelihara. Ingatlah satu saat, apabila bumi digoncangkan dengan goncangan yang amat dahsyat, dan bumi mulai mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya lalu bumi berceritera dengan ijin-Nya, ketika itu manusia bagaikan anai-anai yang bertebaran, dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan. Dan manusia hanya sanggup berucap tanya ‘mengapa bumi jadi begini?’. Banyak muka yang semula pongah tengadah pada hari itu tunduk terhina,


JUM’AT BASAH


Jum’at basah
Udara basah,
Daun basah,
Tanah basah,
Jiwaku basah,
Waktu merambat resah,

Jalan berlubang dan genangan air mata
Arus lalu lintas terantuk batu kebodohan masyarakat kota
Para pemuja luber di jalan menjadi luka menganga
Rumah ibadah dipadati sampah yang diangkut penghuninya
Ahh... hatiku remuk meradang menahan seratus dera
Kota hujan ditelikung pembangunan tanpa rencana

Sejarah hutan hijau melambai dianganku merana
Pohon-pohon berjanggut dipagar birokrasi tak berdaya
rerantingya patah dibungkus plastik menjadi cenderamata
Catatan masa lalu bertumpuk menjadi rongsokan besi tua
Amarah, amarah yang tak terkendali jadi kompas menyesatkan jiwa
Aku terjebak dipusaran badai peradaban manusia

Dengan pongah meninggalkan Tuhan nya.

Kemang, 21 Februari 2014


SUARA DARI SERAMBI MEKAH
(dengn sepenuh doa untuk saudaraku di Aceh)

Kasih-Mu,
Ngejawantah dalam gulungan ombak rebah dan debaran jantung bumi menjadi rahasia duka
Direkahan tanah menelan tubuh-tubuh saudara
Kami terpana tak habis bertanya
Dengan bodoh dan pongah Coba menerka makna sebuah peristiwa

Kasih-Mu,
merambat dalam rangkaian rahasia alam, dalam lapisan bumi yang paling gelap, dalam dasar samudera jiwa, dalam gelegak air samudera, dalam patahan-patahan tanah kering hati hamba
Lalu semuanya basah oleh satu desakan Maha kuat ,gelombang tumpukan dosa, lelehan air duka
Didalam camp penampugan sementara

Kasih-Mu,
Mewarnai pantai diserambi rumah kami
Menjadi potongan-potongan asa yang semakin menjauh dari perkampungan tanah rencong
Meninggalkan anak-anak tanpa orang tua ditepi-tepi malam berhujan menggigilkan hati
Beterbangan serangkum doa dari seantero jiwa kami luka
Mencari rumah-rumah tak beralamat
  
Kaish-Mu
Duh, hanya kami hargai dengan silang selisih pendapat para ahli
Kulihat diantara tumpukan-tumpukan hati yang telah lama mati jauh sebelum datang badai
Menerbangkan helai-helai bulu tubuh kami, tersangkut diatap rumah abadi,
Terselip diselokan peradaban,Terombang ambing arus sungai lumpur parodi,
bahkan dalam kubangan dendam, derai airmata, keluh kesah, dan caci maki

Kasih-Mu,
Sejatinya semerbak jiwa yang bermuara pada sifat Rahim
Berulangkali jiwa ingin mati rasakan nikmat disambut malaikat berlapis cahaya
Bukan untuk ditangisi ditujuh malam putus asa
Gulungan raksasa air asin yang melanda memang bukan liukan tari seudati, saudara
Tapi sebuah dimensi yang sarat dengan makna

Kasih-Mu,
Berlari jauh mendahului murka paduka
Bukan seperti yang telah aku lihat diserambi rumahku tepi pantai sepi
Maka para pencari harus terus dikerahkan untuk menemukan jiwa-jiwa suci yang hilang
Dalam gulungan peradaban yang lebih liar dan mematikan daya nalar
Kita kepinggirkan jasad-jasad yang masih kita temui dalam setiap langkah hari

Kasih-Mu,
Bila harus kumaknai, aku memilih rahasia
Terlalu agung untuk menjadi bahan cerita
Karena kami lupa dan Kau kutinggalkan disemak-semak gelap hati kami
Secepatnya lebih pantas untuk dikasihani dan diselamakan
Dengan kiriman doa sejati dari seluruh jiwa yang selalu mencari  makna hakiki dibalik sebuah tragedi


Bogor, Januari, 24-2005

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS